Langsung ke konten utama

Happier

"Jadi, kamu izinin aku buat ketemu dia?"

"Seperti biasa, apa aku pernah larang kamu untuk hal ini?"

"Aku janji kali ini aku berusaha menyelesaikannya dengan baik dan cepat"

"Hmm... pergilah! cepat selesaikan urusan kamu sama dia. Lalu, kembali dengan selamat"

"Aku pergi dulu, I Love You"

..........

    Dalam setiap bulan seperti sudah masuk ke dalam rutinitasku, membahas dan melakukan percakapan tentang  hal yang sama dengan Tio. Dia meminta izin, dan aku mengizinkan. Dengan kalimat yang sama dan penyelesaian yang sama. Sebentar... apakah selama ini ada penyelesaian? 

    Kami menjalin hubungan sudah terbilang cukup lama, dua tahun tepatnya di akhir tahun ini. Selama menjalin hubungan dengannya, bisa dibilang hubungan kami sangat rumit. Bagaimana tidak, karena fokus kami terbagi untuk memperhatikan satu orang, yang selalu menjadi topik pembahasan dalam hubungan kami. Dalam seminggu namanya tidak pernah absen  dalam  obrolan kami. Terkadang aku berpikir, jika dia tidak pernah hadir dalam hubungan kami, apakah hubungan kami akan berjalan  lancar layaknya pasangan kekasih pada umumnya? atau apakah kehidupanku akan lebih jauh bahagia saat dulu aku tidak jatuh cinta dengan Tio? Entahlah, aku belum dapat menemukan jawaban  tepat dari pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan yang aku buat sendiri. Memang benar kebanyakan orang bilang, "manusia kalau sudah jatuh cinta itu bodoh" Logika tergeser dan perasaan mendominan. Aku percaya jawaban dari banyak pertanyaanku akan terjawab suatu saat nanti. Dan apapun akhirnya, aku berharap saat jawaban itu datang, diri ini dalam keadaan baik. 

Kia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 3: Trauma yang Tak Bernama dan Luka yang Nggak Kelihatan

     Setelah nyokap kerja jauh dan kakak pindah ke Jakarta Timur, gw bener-bener hidup sendiri di rumah pakde. Gw masih anak kelas 3 SD yang belum ngerti banyak hal selain rasa ingin ditemani dan dimengerti. Suatu hari, gw sakit. Gw pikir itu bakal jadi alasan yang cukup buat nyokap pulang. Dan memang, dia datang. Gw dibawa ke klinik, dirawat sebentar. Tapi nggak lama setelah itu, dia harus balik kerja lagi. Gw cuma bisa nangis dalam kamar mandi, sambil denger suara pamitan nyokap gw dari luar. Gw masih pengen ditemenin, masih butuh pelukan dan keberadaan nyokap. Tapi dia harus pergi lagi. Waktu itu gw sempat mikir, “Kenapa nyokap tega ninggalin gw? Kenapa gw harus tinggal sama keluarga yang bahkan nggak pernah bikin gw ngerasa aman?” Tapi sekarang, setelah gw dewasa, gw ngerti, lebih sedih nyokap gw. Dia harus berjuang kerja cari nafkah demi anaknya untuk bisa bertahan hidup. Kalau bukan karena kerjaan itu, mungkin gw nggak bisa sekolah, dan kami nggak bisa makan. Sel...

Tentang Melepas dan Belajar Dewasa

Ada satu fase dalam hidup yang gak pernah gw sangka bakal datang. Fase di mana hubungan yang dulu gw kira abadi, ternyata harus berubah bentuk. Bukan karena pertengkaran, tapi karena waktu dan arah hidup yang udah gak lagi sejalan. Dulu, gw ngerasa punya orang-orang yang selalu jadi tempat pulang. Orang yang tahu isi kepala gw, ngerti emosi gw tanpa gw harus jelasin apa-apa. Tapi ternyata, seiring berjalannya waktu, hal-hal yang dulu terasa dekat… mulai terasa asing. Obrolan gak lagi seintens dulu, kebersamaan gak lagi sesering dulu, dan gw sadar, mungkin ini cara hidup ngasih tau, kalau semua orang bisa berubah. Awalnya gw marah. Marah karena ngerasa cuma gw yang berusaha menjaga. Marah karena tiap kali gw mencoba tetap dekat, malah berujung pada diam yang gak ditanggapi. Sampai akhirnya gw sadar, bukan mereka yang salah. Emang manusia itu tumbuhnya beda-beda, dan gak semua orang bisa tumbuh di irama yang sama. Ada orang yang tipenya “ secure ”, tenang, stabil, tahu kapan maju dan ...

Chapter 1: Mencari Sosok Ayah di Setiap Sudut Hidup

          Gw tumbuh tanpa figur ayah. Bukan karena kehilangan yang disebabkan oleh kematian, tapi karena beliau memilih pergi meninggalkan segala bentuk tanggung jawab, baik secara lahir maupun batin.Sejak usia lima tahun, nyokap resmi bercerai dari bokap. Tapi kalau ditarik mundur, kehadiran bokap sebenarnya sudah menghilang jauh sebelum itu, sekitar gw umur tiga atau empat tahun. Beliau nggak lagi memberi nafkah, selingkuh, nggak lagi peduli, dan pada akhirnya memilih untuk benar-benar lepas dari kehidupan kami. Gw dan nyokap pindah ke Jakarta sekitar tahun 2004 atau 2005, gw lupa pastinya. Sementara kakak gw, yang saat itu udah kelas enam SD, tetap tinggal di Banjar demi menyelesaikan sekolahnya. Dan sempat ada perebutan hak asuh antara nyokap dan bokap. Pada akhirnya nyokap yang ambil alih hak asuh gw dan kakak. Dari situ, keluarga kecil kami kayak tim SAR yang mencar ke arah berbeda-beda demi bertahan hidup. Di Jakarta, kami tinggal di rumah pakde, aba...