Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang Melepas dan Belajar Dewasa

Postingan terbaru

Chapter 3: Trauma yang Tak Bernama dan Luka yang Nggak Kelihatan

     Setelah nyokap kerja jauh dan kakak pindah ke Jakarta Timur, gw bener-bener hidup sendiri di rumah pakde. Gw masih anak kelas 3 SD yang belum ngerti banyak hal selain rasa ingin ditemani dan dimengerti. Suatu hari, gw sakit. Gw pikir itu bakal jadi alasan yang cukup buat nyokap pulang. Dan memang, dia datang. Gw dibawa ke klinik, dirawat sebentar. Tapi nggak lama setelah itu, dia harus balik kerja lagi. Gw cuma bisa nangis dalam kamar mandi, sambil denger suara pamitan nyokap gw dari luar. Gw masih pengen ditemenin, masih butuh pelukan dan keberadaan nyokap. Tapi dia harus pergi lagi. Waktu itu gw sempat mikir, “Kenapa nyokap tega ninggalin gw? Kenapa gw harus tinggal sama keluarga yang bahkan nggak pernah bikin gw ngerasa aman?” Tapi sekarang, setelah gw dewasa, gw ngerti, lebih sedih nyokap gw. Dia harus berjuang kerja cari nafkah demi anaknya untuk bisa bertahan hidup. Kalau bukan karena kerjaan itu, mungkin gw nggak bisa sekolah, dan kami nggak bisa makan. Sel...

Chapter 2: Di Rumah Orang, Gw Belajar Diam dan Bertahan

            Di rumah pakde, gw satu-satunya anak cewek. Sisanya sepupu-sepupu gw, semuanya laki-laki. Mungkin karena itu juga, gw sering banget disuruh-suruh. Mulai dari hal sepele sampai yang ngerepotin. Gw jadi “asisten umum” di rumah itu. Bukan karena gw anak paling kecil, tapi karena gw cewek. Sebelum itu, waktu gw baru masuk kelas 1 SD, nyokap sempat jemput kakak gw dari kampung, karena dia udah lulus SD. Tapi nggak lama setelah nyampe Jakarta, kakak gw pindah ke rumah saudara di Jakarta Timur buat kerja. Dia milih buat ga lanjut sekolah. Dan keluarga kami kembali terpisah. Balik lagi jadi tim SAR. Uang jajan gw kadang juga dipakai buat jajanin mereka. Nggak ada yang bilang “makasih”, nggak ada yang ngerasa itu salah. Tapi gw kecil, gw tahu itu nggak adil. Cuma ya, siapa juga yang bisa gw protes? Setiap pagi, ketika anak-anak lain diantar orangtuanya ke sekolah, gw udah terbiasa beresin semuanya sendiri. Bangun sendiri, siapin seragam sendiri, nyi...

Chapter 1: Mencari Sosok Ayah di Setiap Sudut Hidup

          Gw tumbuh tanpa figur ayah. Bukan karena kehilangan yang disebabkan oleh kematian, tapi karena beliau memilih pergi meninggalkan segala bentuk tanggung jawab, baik secara lahir maupun batin.Sejak usia lima tahun, nyokap resmi bercerai dari bokap. Tapi kalau ditarik mundur, kehadiran bokap sebenarnya sudah menghilang jauh sebelum itu, sekitar gw umur tiga atau empat tahun. Beliau nggak lagi memberi nafkah, selingkuh, nggak lagi peduli, dan pada akhirnya memilih untuk benar-benar lepas dari kehidupan kami. Gw dan nyokap pindah ke Jakarta sekitar tahun 2004 atau 2005, gw lupa pastinya. Sementara kakak gw, yang saat itu udah kelas enam SD, tetap tinggal di Banjar demi menyelesaikan sekolahnya. Dan sempat ada perebutan hak asuh antara nyokap dan bokap. Pada akhirnya nyokap yang ambil alih hak asuh gw dan kakak. Dari situ, keluarga kecil kami kayak tim SAR yang mencar ke arah berbeda-beda demi bertahan hidup. Di Jakarta, kami tinggal di rumah pakde, aba...

Pandangan Indonesia tentang "Gangguan Jiwa"

     Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar, melihat, membaca kalimat "Gangguan Jiwa"? Perlu digaris bawahi, setiap manusia diciptakan berbeda, tidak ada yang sama. Bahkan anak kembarpun memiliki karakter yang berbeda. Tidak perlu jauh membahas tentang orang-orang di seluruh dunia. konteks hal yang ingin aku bahas hanya di Indonesia.              Di Indonesia, masih banyak stereotip negatif terhadap orang dengan gangguan jiwa, yang seringkali berujung pada pengucilan atau pengasingan. Hal ini pastinya disebabkan oleh beberapa faktor budaya, sosial, dan psikologis yang sudah berkembang lama di masyarakat Indonesia. Menurut kalian apa sih yang membuat stereotip ini menjamur bahkan seperti sulit diterima, padahal ini sudah tahun 2024. Bahkan besok sudah masuk tahun 2025.             Karena kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental oleh masyarakat Indonesia, it's mean kurangnya edukasi dan dukung...

Andai

     Perihal melepas mungkin aku sudah bisa disebut mahir. Malam ini aku sudah mempersiapkan diri, membayangkan apa yang akan terjadi. Tapi, tetap saja air mataku tidak bisa tertahan agar tidak mengalir ke pipiku. "Jadi, setelah pembicaraan panjang kita, apa keputusan kamu?" beberapa menit sunyi, aku menunggu jawabannya.  "Maaf, hubungan kita cukup sampai di sini. Tolong relakan aku." Ruangan kembali sunyi, hanya terdengar suara angin dar kipas yang berputar. Tidak ada satu patah kata yang keluar dari mulutku, hanya air mata sialan yang tidak bisa bekerjasama untuk tidak keluar dari mataku. Tanpa sadar simpul senyum getir terlihat dari wajahku. Aku tertawa getir  "Again?" berbicara dengan diriku sendiri. "Andai saja malam itu aku tidak datang untuk meminta kejelasan, akankah hubungan ini berakhir? atau akan menggantung sampai rasa muak sudah memuncak." "Andai saja aku tidak bertemunya 1 tahun lalu, harusnya aku tidak perlu merasakan sakit se...

Happier

"Jadi, kamu izinin aku buat ketemu dia?" "Seperti biasa, apa aku pernah larang kamu untuk hal ini?" "Aku janji kali ini aku berusaha menyelesaikannya dengan baik dan cepat" "Hmm... pergilah! cepat selesaikan urusan kamu sama dia. Lalu, kembali dengan selamat" "Aku pergi dulu, I Love You" ..........      Dalam setiap bulan seperti sudah masuk ke dalam rutinitasku, membahas dan melakukan percakapan tentang  hal yang sama dengan Tio. Dia meminta izin, dan aku mengizinkan. Dengan kalimat yang sama dan penyelesaian yang sama. Sebentar... apakah selama ini ada penyelesaian?       Kami menjalin hubungan sudah terbilang cukup lama, dua tahun tepatnya di akhir tahun ini. Selama menjalin hubungan dengannya, bisa dibilang hubungan kami sangat rumit. Bagaimana tidak, karena fokus kami terbagi untuk memperhatikan satu orang, yang selalu menjadi topik pembahasan dalam hubungan kami. Dalam seminggu namanya tidak pernah absen  dalam  obrolan kami. Terk...