Langsung ke konten utama

Pandangan Indonesia tentang "Gangguan Jiwa"

    Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar, melihat, membaca kalimat "Gangguan Jiwa"?
Perlu digaris bawahi, setiap manusia diciptakan berbeda, tidak ada yang sama. Bahkan anak kembarpun memiliki karakter yang berbeda. Tidak perlu jauh membahas tentang orang-orang di seluruh dunia. konteks hal yang ingin aku bahas hanya di Indonesia.

           Di Indonesia, masih banyak stereotip negatif terhadap orang dengan gangguan jiwa, yang seringkali berujung pada pengucilan atau pengasingan. Hal ini pastinya disebabkan oleh beberapa faktor budaya, sosial, dan psikologis yang sudah berkembang lama di masyarakat Indonesia. Menurut kalian apa sih yang membuat stereotip ini menjamur bahkan seperti sulit diterima, padahal ini sudah tahun 2024. Bahkan besok sudah masuk tahun 2025.

          Karena kurangnya pemahaman tentang kesehatan mental oleh masyarakat Indonesia, it's mean kurangnya edukasi dan dukungan sosial tentang kesehatan mental. Belum lagi stigma budaya dan agama. Ini sih yang paling krusial, perbedaan pandangan generasi tua dan muda.
Seringkali generasi tua merasa selalu paling benar atas semua pemikiran dan tindakannya hanya karena generasi tua hidup lebih dahulu dibanding generasi muda.
        
        Kalau ditanya, peran siapa sih yang paling penting? Jelas peran media, pemerintah, dan masyarakat secara keseluruhan sangat penting dalam meruntuhkan stigma ini dan menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi individu dengan gangguan jiwa. Untuk mengatasi stereotip ini, penting untuk meningkatkan edukasi dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental, mempromosikan pemahaman bahwa gangguan jiwa adalah masalah medis yang sah, serta mendorong lebih banyak dukungan dan inklusivitas bagi mereka yang menghadapinya. 

        Ini bukan maksud mencari pembelaan. Padahal orang yang menyadari kondisi mentalnya dan mencari bantuan profesional itu justru menunjukkan kepedulian terhadap diri sendiri. karena artinya mereka berusaha untuk sembuh dan mengatasi masalah yang ada, bukan malah menutupinya. Ini harusnya diapresiasi, bukan dicap negatif. Kalau menurut kalian gimana?

        Dan kalian setuju ga? salah satu tantangan terbesar di Indonesia dalam penanganan kesehatan mental adalah kurangnya fasilitas dan tenaga profesional di bidang kesehatan mental. Banyak daerah yang kekurangan psikolog, psikiater, atau terapis, dan ini membuat akses untuk mendapatkan bantuan jadi lebih sulit, terutama di daerah-daerah terpencil. Bahkan di kota besar sekalipun, masih ada stigma atau anggapan bahwa pergi ke psikolog itu “aneh” atau hanya untuk orang yang "lemah". Sedih sih, prioritas anggaran di sektor kesehatan yang lebih sering difokuskan pada masalah fisik padahal masalah kesehatan mental juga harusnya amsuk ke dalam priorits anggaran. Selain itu, profesi ini memang seringkali tidak dipandang setinggi profesi medis lainnya, padahal peran psikolog dan psikiater sangat penting dalam menjaga kesehatan mental masyarakat.

        Coba kita buat data perbandingannya ya, ini aku mendapat sumber dari Google dan IDI.

  • Dokter Umum : Psikiater
    100.000 : 2.500 (rata-rata) = 40 : 1
    Jadi, untuk setiap psikiater, ada sekitar 40 dokter umum.

  • Dokter Umum : Psikolog
    100.000 : 10.000 = 10 : 1
    Jadi, untuk setiap psikolog, ada sekitar 10 dokter umum.

  • Psikiater : Psikolog
    2.500 : 10.000 = 1 : 4
    Jadi, jumlah psikolog sekitar 4 kali lebih banyak daripada psikiater.

Dari perbandingan ini, bisa dilihat bahwa memang jumlah tenaga kesehatan mental, terutama psikiater, sangat terbatas dibandingkan dengan dokter umum. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada ketimpangan yang cukup besar dalam penyediaan layanan kesehatan mental di Indonesia.


        Maka dari itu, aku mau kasih sedikit opini, Jangan biarkan stigma membelenggu hidup kalian. Kalau merasa gak oke, itu gak masalah, yang penting kalian tahu cara ngatasinnya. Mulai dari ngobrol sama teman, atau cari psikolog yang bisa bantu kalian. Kesehatan mental kalian, prioritas kalian!
karena apa? Mental health itu bukan cuma buat ‘overthinking’ aja. Kesehatan mental sama pentingnya kayak kesehatan fisik. Mulai terbuka dengan issue kesehatan mental, supaya stigma gak ngerusak kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 3: Trauma yang Tak Bernama dan Luka yang Nggak Kelihatan

     Setelah nyokap kerja jauh dan kakak pindah ke Jakarta Timur, gw bener-bener hidup sendiri di rumah pakde. Gw masih anak kelas 3 SD yang belum ngerti banyak hal selain rasa ingin ditemani dan dimengerti. Suatu hari, gw sakit. Gw pikir itu bakal jadi alasan yang cukup buat nyokap pulang. Dan memang, dia datang. Gw dibawa ke klinik, dirawat sebentar. Tapi nggak lama setelah itu, dia harus balik kerja lagi. Gw cuma bisa nangis dalam kamar mandi, sambil denger suara pamitan nyokap gw dari luar. Gw masih pengen ditemenin, masih butuh pelukan dan keberadaan nyokap. Tapi dia harus pergi lagi. Waktu itu gw sempat mikir, “Kenapa nyokap tega ninggalin gw? Kenapa gw harus tinggal sama keluarga yang bahkan nggak pernah bikin gw ngerasa aman?” Tapi sekarang, setelah gw dewasa, gw ngerti, lebih sedih nyokap gw. Dia harus berjuang kerja cari nafkah demi anaknya untuk bisa bertahan hidup. Kalau bukan karena kerjaan itu, mungkin gw nggak bisa sekolah, dan kami nggak bisa makan. Sel...

Tentang Melepas dan Belajar Dewasa

Ada satu fase dalam hidup yang gak pernah gw sangka bakal datang. Fase di mana hubungan yang dulu gw kira abadi, ternyata harus berubah bentuk. Bukan karena pertengkaran, tapi karena waktu dan arah hidup yang udah gak lagi sejalan. Dulu, gw ngerasa punya orang-orang yang selalu jadi tempat pulang. Orang yang tahu isi kepala gw, ngerti emosi gw tanpa gw harus jelasin apa-apa. Tapi ternyata, seiring berjalannya waktu, hal-hal yang dulu terasa dekat… mulai terasa asing. Obrolan gak lagi seintens dulu, kebersamaan gak lagi sesering dulu, dan gw sadar, mungkin ini cara hidup ngasih tau, kalau semua orang bisa berubah. Awalnya gw marah. Marah karena ngerasa cuma gw yang berusaha menjaga. Marah karena tiap kali gw mencoba tetap dekat, malah berujung pada diam yang gak ditanggapi. Sampai akhirnya gw sadar, bukan mereka yang salah. Emang manusia itu tumbuhnya beda-beda, dan gak semua orang bisa tumbuh di irama yang sama. Ada orang yang tipenya “ secure ”, tenang, stabil, tahu kapan maju dan ...

Chapter 1: Mencari Sosok Ayah di Setiap Sudut Hidup

          Gw tumbuh tanpa figur ayah. Bukan karena kehilangan yang disebabkan oleh kematian, tapi karena beliau memilih pergi meninggalkan segala bentuk tanggung jawab, baik secara lahir maupun batin.Sejak usia lima tahun, nyokap resmi bercerai dari bokap. Tapi kalau ditarik mundur, kehadiran bokap sebenarnya sudah menghilang jauh sebelum itu, sekitar gw umur tiga atau empat tahun. Beliau nggak lagi memberi nafkah, selingkuh, nggak lagi peduli, dan pada akhirnya memilih untuk benar-benar lepas dari kehidupan kami. Gw dan nyokap pindah ke Jakarta sekitar tahun 2004 atau 2005, gw lupa pastinya. Sementara kakak gw, yang saat itu udah kelas enam SD, tetap tinggal di Banjar demi menyelesaikan sekolahnya. Dan sempat ada perebutan hak asuh antara nyokap dan bokap. Pada akhirnya nyokap yang ambil alih hak asuh gw dan kakak. Dari situ, keluarga kecil kami kayak tim SAR yang mencar ke arah berbeda-beda demi bertahan hidup. Di Jakarta, kami tinggal di rumah pakde, aba...