Langsung ke konten utama

Andai

    

Perihal melepas mungkin aku sudah bisa disebut mahir. Malam ini aku sudah mempersiapkan diri, membayangkan apa yang akan terjadi. Tapi, tetap saja air mataku tidak bisa tertahan agar tidak mengalir ke pipiku.
"Jadi, setelah pembicaraan panjang kita, apa keputusan kamu?" beberapa menit sunyi, aku menunggu jawabannya. 
"Maaf, hubungan kita cukup sampai di sini. Tolong relakan aku."
Ruangan kembali sunyi, hanya terdengar suara angin dar kipas yang berputar.
Tidak ada satu patah kata yang keluar dari mulutku, hanya air mata sialan yang tidak bisa bekerjasama untuk tidak keluar dari mataku. Tanpa sadar simpul senyum getir terlihat dari wajahku. Aku tertawa getir 
"Again?" berbicara dengan diriku sendiri.
"Andai saja malam itu aku tidak datang untuk meminta kejelasan, akankah hubungan ini berakhir? atau akan menggantung sampai rasa muak sudah memuncak."
"Andai saja aku tidak bertemunya 1 tahun lalu, harusnya aku tidak perlu merasakan sakit seperti ini"
Kata-kata "andai" menghantui pikiranku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 3: Trauma yang Tak Bernama dan Luka yang Nggak Kelihatan

     Setelah nyokap kerja jauh dan kakak pindah ke Jakarta Timur, gw bener-bener hidup sendiri di rumah pakde. Gw masih anak kelas 3 SD yang belum ngerti banyak hal selain rasa ingin ditemani dan dimengerti. Suatu hari, gw sakit. Gw pikir itu bakal jadi alasan yang cukup buat nyokap pulang. Dan memang, dia datang. Gw dibawa ke klinik, dirawat sebentar. Tapi nggak lama setelah itu, dia harus balik kerja lagi. Gw cuma bisa nangis dalam kamar mandi, sambil denger suara pamitan nyokap gw dari luar. Gw masih pengen ditemenin, masih butuh pelukan dan keberadaan nyokap. Tapi dia harus pergi lagi. Waktu itu gw sempat mikir, “Kenapa nyokap tega ninggalin gw? Kenapa gw harus tinggal sama keluarga yang bahkan nggak pernah bikin gw ngerasa aman?” Tapi sekarang, setelah gw dewasa, gw ngerti, lebih sedih nyokap gw. Dia harus berjuang kerja cari nafkah demi anaknya untuk bisa bertahan hidup. Kalau bukan karena kerjaan itu, mungkin gw nggak bisa sekolah, dan kami nggak bisa makan. Sel...

Tentang Melepas dan Belajar Dewasa

Ada satu fase dalam hidup yang gak pernah gw sangka bakal datang. Fase di mana hubungan yang dulu gw kira abadi, ternyata harus berubah bentuk. Bukan karena pertengkaran, tapi karena waktu dan arah hidup yang udah gak lagi sejalan. Dulu, gw ngerasa punya orang-orang yang selalu jadi tempat pulang. Orang yang tahu isi kepala gw, ngerti emosi gw tanpa gw harus jelasin apa-apa. Tapi ternyata, seiring berjalannya waktu, hal-hal yang dulu terasa dekat… mulai terasa asing. Obrolan gak lagi seintens dulu, kebersamaan gak lagi sesering dulu, dan gw sadar, mungkin ini cara hidup ngasih tau, kalau semua orang bisa berubah. Awalnya gw marah. Marah karena ngerasa cuma gw yang berusaha menjaga. Marah karena tiap kali gw mencoba tetap dekat, malah berujung pada diam yang gak ditanggapi. Sampai akhirnya gw sadar, bukan mereka yang salah. Emang manusia itu tumbuhnya beda-beda, dan gak semua orang bisa tumbuh di irama yang sama. Ada orang yang tipenya “ secure ”, tenang, stabil, tahu kapan maju dan ...

Chapter 1: Mencari Sosok Ayah di Setiap Sudut Hidup

          Gw tumbuh tanpa figur ayah. Bukan karena kehilangan yang disebabkan oleh kematian, tapi karena beliau memilih pergi meninggalkan segala bentuk tanggung jawab, baik secara lahir maupun batin.Sejak usia lima tahun, nyokap resmi bercerai dari bokap. Tapi kalau ditarik mundur, kehadiran bokap sebenarnya sudah menghilang jauh sebelum itu, sekitar gw umur tiga atau empat tahun. Beliau nggak lagi memberi nafkah, selingkuh, nggak lagi peduli, dan pada akhirnya memilih untuk benar-benar lepas dari kehidupan kami. Gw dan nyokap pindah ke Jakarta sekitar tahun 2004 atau 2005, gw lupa pastinya. Sementara kakak gw, yang saat itu udah kelas enam SD, tetap tinggal di Banjar demi menyelesaikan sekolahnya. Dan sempat ada perebutan hak asuh antara nyokap dan bokap. Pada akhirnya nyokap yang ambil alih hak asuh gw dan kakak. Dari situ, keluarga kecil kami kayak tim SAR yang mencar ke arah berbeda-beda demi bertahan hidup. Di Jakarta, kami tinggal di rumah pakde, aba...