Perihal melepas mungkin aku sudah bisa disebut mahir. Malam ini aku sudah mempersiapkan diri, membayangkan apa yang akan terjadi. Tapi, tetap saja air mataku tidak bisa tertahan agar tidak mengalir ke pipiku.
"Jadi, setelah pembicaraan panjang kita, apa keputusan kamu?" beberapa menit sunyi, aku menunggu jawabannya.
"Maaf, hubungan kita cukup sampai di sini. Tolong relakan aku."
Ruangan kembali sunyi, hanya terdengar suara angin dar kipas yang berputar.
Tidak ada satu patah kata yang keluar dari mulutku, hanya air mata sialan yang tidak bisa bekerjasama untuk tidak keluar dari mataku. Tanpa sadar simpul senyum getir terlihat dari wajahku. Aku tertawa getir
"Again?" berbicara dengan diriku sendiri.
"Andai saja malam itu aku tidak datang untuk meminta kejelasan, akankah hubungan ini berakhir? atau akan menggantung sampai rasa muak sudah memuncak."
"Andai saja aku tidak bertemunya 1 tahun lalu, harusnya aku tidak perlu merasakan sakit seperti ini"
Kata-kata "andai" menghantui pikiranku.
.png)
Komentar
Posting Komentar